Gambar Proyeksi MBS

Struktur Perkerasan Baru MDP 2017 + Suplemen

 






1. Umur Rencana 


2. Lalu Lintas

Lalu lintas merupakan parameter yang penting dalam perencanaan struktur perkerasan jalan dikarenakan lalu lintas ini diperlukan untuk menghitung beban lalu lintas rencana yang dipikul oleh perkerasan selama umur rencana 
Volume tahun pertama adalah volume lalu lintas sepanjang tahun pertama setelah perkerasan diperkirakan selesai dibangun atau direhabilitasi.

Elemen utama beban lalu lintas dalam desain adalah:
  • Beban gandar kendaraan komersial;
  • Volume lalu lintas yang dinyatakan dalam beban sumbu standar.
Analisis volume lalu lintas didasarkan pada survei yang diperoleh dari:
  1. Survei lalu lintas, dengan durasi minimal 7 x 24 jam. Survei dapat dilakukan secara manual mengacu pada Pedoman Survei Pencacahan Lalu Lintas (Pd T-19-2004-B) atau menggunakan peralatan dengan pendekatan yang sama.
  2. Hasil – hasil survei lalu lintas sebelumnya.
  3. Nilai perkiraan dari Tabel 4.6 dibawah untuk jalan dengan lalu lintas rendah.


Dalam analisis lalu lintas, penentuan volume lalu lintas pada jam sibuk dan lalu lintas harian rata – rata tahunan (LHRT) mengacu pada Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI). Penentuan nilai LHRT didasarkan pada data survei volume lalu lintas dengan mempertimbangkan faktor k.

Perkiraan volume lalu lintas harus dilaksanakan secara realistis. Rekayasa data lalu lintas untuk meningkatkan justifikasi ekonomi tidak boleh dilakukan untuk kepentingan apapun. Jika terdapat keraguan terhadap data lalu lintas maka perencana harus membuat survai cepat secara independen untuk memverifikasi data tersebut.

Faktor Pertumbuhan Lalu Lintas

Faktor pertumbuhan lalu lintas berdasarkan data–data pertumbuhan series (historical growth
data) atau formulasi korelasi dengan faktor pertumbuhan lain yang berlaku. Jika tidak tersedia
data maka Tabel 4.1. dapat digunakan (2015 – 2035).

Pertumbuhan lalu lintas selama umur rencana dihitung dengan faktor pertumbuhan kumulatif
(Cumulative Growth Factor):
  • R = faktor pengali pertumbuhan lalu lintas kumulatif
  • i = laju pertumbuhan lalu lintas tahunan (%)
  • UR = umur rencana (tahun)

Apabila diperkirakan akan terjadi perbedaan laju pertumbuhan tahunan sepanjang total umur
rencana (UR), dengan i1% selama periode awal (UR1 tahun) dan i2% selama sisa periode
berikutnya (UR – UR1), faktor pengali pertumbuhan lalu lintas kumulatif dapat dihitung dari
formula berikut:

  • R = faktor pengali pertumbuhan lalu lintas kumulatif
  • i1 = laju pertumbuhan tahunan lalu lintas periode1(%)
  • i2 = laju pertumbuhan tahunan lalu lintas periode 2 (%)
  • UR = total umur rencana (tahun)
  • UR1 = umur rencana periode 1 (tahun)
Formula di atas digunakan untuk periode rasio volume kapasitas (RVK) yang belummencapai tingkat kejenuhan (RVK ≤ 0.85).

Apabila kapasitas lalu lintas diperkirakan tercapai pada tahun ke (Q) dari umur rencana (UR),
faktor pengali pertumbuhan lalu lintas kumulatif dihitung sebagai berikut:

Lalu Lintas Lajur Rencana

Lajur rencana adalah salah satu lajur lalu lintas dari suatu ruas jalan yang menampung lalu lintas kendaraan niaga (truk dan bus) paling besar. Beban lalu lintas pada lajur rencana dinyatakan dalam kumulatif beban gandar standar (ESA) dengan memperhitungkan faktor distribusi arah (DD) dan faktor distribusi lajur kendaraan niaga (DL).

Untuk jalan dua arah, faktor distribusi arah (DD) umumnya diambil 0,50 kecuali pada lokasi-lokasi yang jumlah kendaraan niaga cenderung lebih tinggi pada satu arah tertentu.

Faktor distribusi lajur digunakan untuk menyesuaikan beban kumulatif (ESA) pada jalan dengan dua lajur atau lebih dalam satu arah.


Faktor Ekivalen Beban (Vehicle Damage Factor)

Dalam desain perkerasan, beban lalu lintas dikonversi ke beban standar (ESA) dengan menggunakan Faktor Ekivalen Beban (Vehicle Damage Factor). Analisis struktur perkerasan dilakukan berdasarkan jumlah kumulatif ESA pada lajur rencana sepanjang umur rencana.

*Data beban gandar dapat diperoleh dari:
  1. Jembatan timbang, timbangan statis atau WIM (survei langsung).
  2. Survei beban gandar pada jembatan timbang atau WIM yang pernah dilakukan dan dianggap cukup representatif.
  3. Data WIM Regional yang dikeluarkan oleh Ditjen Bina Marga.

Timbangan survei beban gandar yang menggunakan sistem statis harus mempunyaikapasitas beban roda (tunggal atau ganda) minimum 18 ton atau kapasitas beban sumbutunggal minimum 35 ton.

Tingkat pembebanan faktual berlebih diasumsikan berlangsung sampai tahun 2020. Setelah tahun 2020, diasumsikan beban kendaraan sudah terkendali dengan beban sumbu nominal terberat (MST) 12 ton. Namun demikian, untuk keperluan desain, Direktorat Jenderal Bina Marga dapat menentukan waktu penerapan efektif beban terkendali tersebut setiap waktu.

Jika survei beban gandar tidak mungkin dilakukan oleh perencana dan data survei beban gandar sebelumnya tidak tersedia, maka nilai VDF pada tabel 4.4 dan tabel 4.5 dapat digunakan untuk menghitung ESA.

Tabel 4.4. menunjukkan nilai VDF regional masing-masing jenis kendaraan niaga yang diolah dari data studi WIM yang dilakukan Ditjen Bina Marga pada tahun 2012 – 2013. Data tersebut perlu diperbarui secara berkala sekurang-kurangnya setiap 5 tahun.

Apabila survei lalu lintas dapat mengidentifikasi jenis dan muatan kendaraan niaga, dapat digunakan data VDF masing-masing jenis kendaraan menurut tabel 4.5. Untuk periode beban faktual (sampai tahun 2020), digunakan nilai VDF beban nyata. Untuk periode beban normal (terkendali) digunakan VDF dengan muatan sumbu terberat 12 ton. Perkiraan beban gandar kawasan dengan lalu lintas rendah dapat mengacu Tabel 4.6.







Beban Sumbu Standar Kumulatif

Beban sumbu standar kumulatif atau Cumulative Equivalent Single Axle Load (CESAL) merupakan jumlah kumulatif beban sumbu lalu lintas desain pada lajur desain selama umur rencana, yang ditentukan sebagai berikut: Menggunakan VDF masing-masing kendaraan niaga

ESATH-1 = (ΣLHRJK x VDFJK) x 365 x DD x DL x R

  • ESATH-1 : kumulatif lintasan sumbu standar ekivalen (equivalent standard axle) pada tahun pertama.
  • LHRJK : lintas harian rata – rata tiap jenis kendaraan niaga (satuan kendaraan per hari).
  • VDFJK : Faktor Ekivalen Beban (Vehicle Damage Factor) tiap jenis kendaraan niaga Tabel 4.4. dan Tabel 4.5.
  • DD : Faktor distribusi arah.
  • DL : Faktor distribusi lajur (Tabel 4.2). 
  • CESAL : Kumulatif beban sumbu standar ekivalen selama umur rencana.
  • R : Faktor pengali pertumbuhan lalu lintas kumulatif





Komentar